Petani Desa Cikarawang Kabupaten Bogor Bangkit dengan Inovasi Produk Hijau

Kamis, 25 September 2025

Tim PKM RSH Ecoplas IPB berkesempatan melakukan riset kepada Kelompok Tani Setia Desa Cikarawang, Bogor, Jawa Barat. Semula petani singkong di Desa Cikarawang menjual singkong hasil panennya ke tengkulak atau pasar dengan harga yang tidak menentu bahkan cenderung rendah. Setiap musim panen, jerih payah selama berbulan-bulan tak jarang berakhir dengan rasa kecewa karena nilai jual singkong yang tidak sebanding dengan tenaga yang dikeluarkan. Petani tidak memiliki banyak pilihan karena menjual ke tengkulak dianggap jalan paling cepat untuk menghasilkan uang.

Berkat kerja sama dengan Greenhope, perusahaan pelopor plastik ramah lingkungan. Kelompok Tani Setia melakukan transformasi bukan hanya soal produk, tetapi tentang perubahan pola pikir dan peningkatan kesejahteraan petani singkong di Desa Cikarawang. Menariknya para petani dikenalkan dengan konsep diversifikasi produk singkong melalui pelatihan yang dilaksanakan oleh Greenhope.

Kelompok Tani Setia yang semula menjual singkong kepada tengkulak berbentuk singkong mentah kini mereka didukung untuk mengolah singkong menjadi tepung tapioka. Tepung tapioka ini digunakan oleh Greenhope sebagai bahan baku ecoplas, plastik ramah lingkungan yang dapat terurai secara alami .

Perubahan ini bukan hanya meningkatkan nilai jual singkong, tapi juga membuka kesempatan kerja baru. Banyak warga desa yang ikut terlibat dalam proses pengolahan sebagai buruh harian. Dengan demikian, manfaat dari singkong kini dirasakan lebih luas, bukan hanya petani yang memiliki lahan tetapi lingkungan sekitar yang memperoleh penghasilan tambahan.

Kerja sama dengan Greenhope tidak berhenti di tepung tapioka. Melalui pelatihan intensif, petani diajak mengembangkan produk turunan lainnnya. Salah satu inovasi produk Kelompok Tani Setia yang didukung oleh Perusahaan Greenhope adalah pembuatan tepung mocaf (modified cassava flour) yang bebas gluten. Tepung ini dibuat menjadi produk mie mocaf dengan nama “simeko”. Menariknya mie mocaf ini telah dipasarkan melalui marketplace online, sehingga membuka akses penjualan yang lebih luas.

"Tidak hanya pengolahan tepung tapioka untuk bahan ecoplas, kami banyak menerima pelatihan untuk pembuatan olahan makanan lainnya, hal tersebut sangat berguna dan digemari oleh ibu-ibu disini,” ujar Pak Murnan, salah satu anggota Kelompok Tani Setia yang aktif mengikuti pelatihan.

Tidak sampai disitu, pelatihan lain yang dilaksanakan mencakup pembuatan produk olahan makanan seperti kue roll singkong, kembang goyang, dan berbagai camilan khas yang memiliki nilai jual jauh lebih tinggi. Inovasi ini tentunya semakin membuat petani singkong percaya diri dan bisa bersaing dengan produk pangan yang lebih modern.

Saat ini hasil panen singkong tidak lagi terjebak pada harga rendah tengkulak. Nilainya naik setelah diolah menjadi produk bernilai tambah. Kesejahteraan petani pun ikut meningkat karena adanya tambahan penghasilan, bahkan peluang kerja baru bagi warga lainnya. Lebih dari itu petani kini tidak lagi memandang singkong sebagai tanaman kelas dua, melainkan sebagai pintu masuk menuju ekonomi hijau yang berkelanjutan.

Kolaborasi antara Kelompok Tani Setia dan Greenhope membuktikan bahwa pertanian bisa menjadi bagian penting dari Green Economy. Dengan diversifikasi produk singkong, petani tidak hanya menopang pangan, tetapi ikut berkontribusi mengurangi ketergantungan pada plastik sekali pakai melalui Ecoplas. Greenhope membuktikan kerja sama yang dilaksanakan dengan kelompok tani dapat menciptakan perubahan besar: desa menjadi motor penggerak inovasi hijau, sekaligus ruang lahirnya solusi keberlanjutan.

Kini, singkong tidak lagi sekadar pangan. Singkong menjadi simbol harapan dan keberlanjutan. Sebuah langkah nyata menuju masa depan hijau yang dimulai dari desa.

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/petani-desa-cikarawang-kabupaten-bogor-bangkit-dengan-inovasi-produk-hijau/86103/