Dorongan kuat untuk mempercepat adopsi bioplastik atau kemasan ramah lingkungan kembali digaungkan dalam ajang The 2nd Annual Indonesia Green Industry Summit 2025 (AIGIS 2025)
Acara yang diprakarsai Kementerian Perindustrian ini menjadi momentum penting, ketika para pelaku industri bioplastik di Indonesia secara resmi membacakan pernyataan komitmen bersama.
Komitmen tersebut digagas oleh Asosiasi Material Berkelanjutan Indonesia (AMBI) dan Greenhope (GH) dengan dukungan Global Green Growth Institute (GGGI), serta disaksikan langsung oleh perwakilan Kementerian Perindustrian, Kementerian Lingkungan Hidup, dan Bappenas.
Pernyataan ini mempertegas komitmen sektor swasta dalam memperluas penggunaan kemasan ramah lingkungan.
Sekaligus menandai dukungan penuh pemerintah terhadap penyelarasan kebijakan dan regulasi yang dapat memperkuat industri bioplastik dalam negeri.
“Kami harapkan percepatan adopsi ini turut menjadikan industri bioplastik sumbangsih positif yang signifikan memerangi sampah plastik yang sangat urgen ini, untuk membantu pemerintah sesuai RPJMN Perpres 12/2025 yang menargetkan penyelesaian permasalahan sampah di Indonesia tuntas pada 2029,” tegas Ketua Umum AMBI, Tommy Tjiptadjaja mengutip siaran persnya, Minggu (24/8/2025)
Tommy menjelaskan, AMBI hadir sebagai wadah kolaborasi bagi inovator teknologi, produsen plastik ramah lingkungan, serta pemilik merek yang menjadi pengguna kemasan, dengan misi utama mendorong edukasi, peningkatan kesadaran publik, dan percepatan adopsi bioplastik.
Ia juga menekankan pentingnya solusi multipihak: dari inovasi material ramah lingkungan, daur ulang, hingga konsep Waste to Energy.
Menurutnya, semua solusi harus berjalan simultan dari hulu ke hilir agar target nasional dalam pengelolaan sampah bisa tercapai.
Tantangan dan Peran Pemerintah
Wakil Menteri Lingkungan Hidup, Diaz Hendropriyono mengingatkan, saat ini Indonesia masih berada dalam situasi krisis sampah plastik.
“Sudah tentu kita tahu sekarang lagi krisis dan pemerintah saat ini memberikan target yang cukup besar RPJMN 50 persen di 2025, padahal sekarang baru 39 persen,” ujarnya.
Diaz menambahkan, target besar itu mustahil dicapai jika hanya mengandalkan pemerintah. Peran pelaku usaha dan inovasi dari industri mutlak diperlukan.
“Saya melihat pameran dan diskusi seperti ini perlu dihadiri pemerintah dan terus kita dukung. Regulasi harus mengikuti inovasi yang ada. Jangan sampai regulasi justru menghambat solusi,” kata Diaz.
Sementara itu, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang menekankan, percepatan industri hijau dan bioplastik sejalan dengan target pemerintah dalam menurunkan emisi karbon.
“Sejak tiga tahun lalu, Kemenperin sudah menetapkan target Net Zero Emission (NZE) untuk sektor manufaktur dipercepat dari 2060 menjadi 2050. Suka tidak suka, ini market driven. Kami ingin produk hijau Indonesia lebih cepat tersedia dibanding negara lain,” tegas Agus.
Ia mengingatkan, 33 persen emisi gas rumah kaca Indonesia berasal dari sektor manufaktur, dan 40 persen polusi udara nasional juga ditopang aktivitas industri.
Maka, bioplastik menjadi salah satu solusi konkret untuk mengurangi dampak tersebut.
Bioplastik, Solusi Inovatif dari Bahan Lokal
Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) menunjukkan Indonesia menghasilkan 56,6 juta ton sampah per tahun, dengan 10–12 juta ton di antaranya berupa plastik.
Mayoritas sampah tersebut berakhir mencemari daratan dan lautan.
Dalam situasi ini, bioplastik hadir sebagai terobosan. Berbasis bahan alami lokal seperti singkong, pati aren, dan selulosa, bioplastik memiliki keunggulan dapat terurai lebih cepat dibanding plastik konvensional, sekaligus mendukung pemanfaatan sumber daya agrikultur domestik.
Pemerintah telah menyiapkan standar jelas melalui Permenperin No. 55/2020 tentang Standar Industri Hijau untuk Kantong Bioplastik.
Kebijakan ini diharapkan memberi kepastian arah bagi para produsen sekaligus memperkuat label industri bioplastik sebagai pilar industri hijau nasional.
Dengan komitmen lintas sektor—pemerintah, industri, hingga masyarakat—Indonesia menegaskan langkah menuju ekonomi sirkular dan pembangunan berkelanjutan.
Sumber artikel: https://www.kompas.tv/saintek/613537/bioplastik-jadi-solusi-urgen-hadapi-krisis-sampah-plastik-di-indonesia?page=all#goog_rewarded